Dalam tulisan ini penulis akan memaparkan tentang seberapa
pentingkah mahasiswa harus memiliki pemikiran kritis dalam pembelajaran
jenjang tertinggi mereka dalam pendidikan . Berpikir kritis merupakan
salah satu keterampilan tingkat tinggi yang sangat penting diajarkan
kepada siswa ataupun mahasiswa selain keterampilan berpikir kreatif.
Apa itu berpikir kritis? Definisi berpikir kritis menurut Chance (1986)
:Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta, mencetuskan
dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan,
menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah. Banyak
fenomena yang ditemui penulis dalam konteks pendidikan mahasiswa dimana
para mahasiswa begitu menghindari bahkan takut untuk berfikir kritis ,
alasan pertama mereka kebanyakan para mahasiswa yang khususnya mempunyai
solidaritas tinggi dalam pertemana beranggapan bahwa seorang yang
Kebiasaan berpikir negatif (kritis) bisa memberikan citra yang negatif
bagi mereka bila sering memperagakannya. Relasi dengan orang lain bisa
jadi kurang baik; orang lain bisa menghindar untuk bergaul dengan mereka
, dan kedua mereka lebih memilih menjadi mahasiswa yang qona’ah dan
bertaqwa dengan harapan akan ada ma’unah dari sang maha kuasa . perlu
kita garis bawahi disini dalam konteks ilmu pengetahuan atau sebuah
jenjang perkuliahan, sebuah pemikiran kritis begitu sangat diperlukan
guna untuk mengawal hal-hal baik dan menolak ide-ide yang kelihatannya
bagus dan hebat, tapi berbahaya. Berfikir kritis juga diperlukan untuk
membuat daftar kelemahan dari data-data yang digunakan untuk mendukung
sebuah usulan Ia tidak terpukau akan hal-hal yang menguntungkan,Ia mampu
mengecek kesalahan dari data-data pendukung yang digunakan. Dari
sinilah sebuah generasi bangsa khususnya mahasiswa harus mempunyai
pemikiran kritis agar mampu merubah dan membuat sebuah inovasi baru yang
dimana akan diimplementasikan dalam sebuah ilmu pengetahuan guna untuk
membuat riset dan kesimpulan tentang sesuatu ilmu yang masih ragu
kebenarannya , dengan adanya mahasiswa yang berfikir kritis , tidak
menutup kemungkinan hal-hal tabir yang masih diperdebatkan oleh para
ilmuwan akan segera terpecahkan degan sumbangsih kinerja berfikir
mahasiswa .
penulis kembali lagi dalam fenomena mengapa mahasiswa lebih memilih menjadi mahasiswa yang qona’ah dan bertaqwa serta akan berharap dan berangan-angan ma’unah dari sang maha kuasa , kita urutkan hukum kausalitas atau sebab akibatnya yang ada terlebih dahulu . dalam pandangan mereka mungkin pernah menjumpai seorang yang mempunyai pikiran kritis akan menjadi seseorang yang gagal karena keegoisannya, atau bahkan mereka menjumpai seseorang yang berfikir kritis kebanyakan adalah orang yang ambisius dan arogan , karena dalam sisi lain orang berfikir kritis adalah seseorang yang tidak akan menerima sebuah penelitihan tanpa adanya bukti yang nyata . baik ... penulis akan membahas masalah ini , kita sebagai intelektual tidak diperkenankan berpandangan mengenai suatu masalah dalam satu sisi , kita lihat sisi yang lain . banyak para ilmuan muslim dengan pemikirannya yang kritis mampu membuat revolusi pendidikan yang begitu besar , begitupun para ilmuan non muslim . contohnya dalam pemikiran kritisnya mampu untuk membantah sebuah teori yang mengatakan bahwa bumi itu bulat pada awalnya , dan yang sekarang nyata berdasarkan fakta adalah bahwa bumi itu bulat,teori yang diungkapkan galileo galilei mendapat sambutan kritis dari para ilmuwan bahwa sebenarnya bumi tidak bulat , disinilah peran pemikiran kritis yang harus dimilki oleh para intelektual guna untuk menemukan sebuah penemuan baru yang mampu mengalahkan penemuan lama yang hasil riset faktanya tidak sesuai , teori itu bertahan karena para intelektual yang tidak kunjung membuat sebuah penemuan baru menegenai sebuah ilmu pengetahuan .
penulis menyimpulkan disini ada yang harus diperhatikan dalam berfikir kritis dan ada yang harus mengontrol sebuah pemikiran kritis itu sendiri . yang pertama adalah komunikasi transedental . komunikas ini adalah komunikasi antara hamba dengan tuhan dimana seorang pemikir kritis akan mampu untuk tidak “kusir” artinya tidak akan pernah ada niatan untuk saling menjatuhkan lawan , yang mana pada akhirnya mereka akan dikucilkan dari pergaulan mereka yang disinilah para mahasiswa begitu takut dalam mengembangkan pikiran kritis mereka. Yang kedua mahasiswa mampu membaca sikon yang dihadapinya , disini mahasiswa mampu menyesuaikan apa yang harus diperbuatnya dan siapa yang dihadapinya sehingga pikiran kritis para mahasiswa akan mampu di aktualisasikan dengan sempurna . ketiga pikiran kritis yang akan di paparkan harus berdasarkan fakta yang ada , tidak sekedar sebuah adu debat , mahasiswa harus punya landasan mengapa mereka menolak keras dan kritis tentang apa yang telah diperdepatkan sehingga akan mampu merujuk pada penemuan baru dalam ilmu pengetahuan .
disini cukup jelas , penulis sangat tidak setuju dengan pemikiran mahasiswa yang hanya sekedar qona’ah dalam jenjang perkuliahannya , karena sebuah akal manusia terdapat jutaan potensi yang dimana didalam agama sendiri manganjurkan untuk dapat memanfaatkan apa yang terdapat dalam diri manusia sebagai bentuk syukur nikmat yang diberikan oleh sang maha kuasa Konsep Akal Dalam Al-Qur’an – Dari segi bahasa, akal yang telah di-Indonesiakan berasal dari kata al-‘aql. Dengan kekuatan akal orang mendapatkan ilmu dan ilmu yang digunakan serta dimiliki oleh manusia bergantung pada kekuatan akalnya. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa harus mampu mengimbangi antara berfikir kritis kita dengan norma-norma dalam agama agar pemikiran yang kritis yang dimiliki mampu membuat perubahan besar dalam ilmu pengetahuan itu sendiri.
penulis kembali lagi dalam fenomena mengapa mahasiswa lebih memilih menjadi mahasiswa yang qona’ah dan bertaqwa serta akan berharap dan berangan-angan ma’unah dari sang maha kuasa , kita urutkan hukum kausalitas atau sebab akibatnya yang ada terlebih dahulu . dalam pandangan mereka mungkin pernah menjumpai seorang yang mempunyai pikiran kritis akan menjadi seseorang yang gagal karena keegoisannya, atau bahkan mereka menjumpai seseorang yang berfikir kritis kebanyakan adalah orang yang ambisius dan arogan , karena dalam sisi lain orang berfikir kritis adalah seseorang yang tidak akan menerima sebuah penelitihan tanpa adanya bukti yang nyata . baik ... penulis akan membahas masalah ini , kita sebagai intelektual tidak diperkenankan berpandangan mengenai suatu masalah dalam satu sisi , kita lihat sisi yang lain . banyak para ilmuan muslim dengan pemikirannya yang kritis mampu membuat revolusi pendidikan yang begitu besar , begitupun para ilmuan non muslim . contohnya dalam pemikiran kritisnya mampu untuk membantah sebuah teori yang mengatakan bahwa bumi itu bulat pada awalnya , dan yang sekarang nyata berdasarkan fakta adalah bahwa bumi itu bulat,teori yang diungkapkan galileo galilei mendapat sambutan kritis dari para ilmuwan bahwa sebenarnya bumi tidak bulat , disinilah peran pemikiran kritis yang harus dimilki oleh para intelektual guna untuk menemukan sebuah penemuan baru yang mampu mengalahkan penemuan lama yang hasil riset faktanya tidak sesuai , teori itu bertahan karena para intelektual yang tidak kunjung membuat sebuah penemuan baru menegenai sebuah ilmu pengetahuan .
penulis menyimpulkan disini ada yang harus diperhatikan dalam berfikir kritis dan ada yang harus mengontrol sebuah pemikiran kritis itu sendiri . yang pertama adalah komunikasi transedental . komunikas ini adalah komunikasi antara hamba dengan tuhan dimana seorang pemikir kritis akan mampu untuk tidak “kusir” artinya tidak akan pernah ada niatan untuk saling menjatuhkan lawan , yang mana pada akhirnya mereka akan dikucilkan dari pergaulan mereka yang disinilah para mahasiswa begitu takut dalam mengembangkan pikiran kritis mereka. Yang kedua mahasiswa mampu membaca sikon yang dihadapinya , disini mahasiswa mampu menyesuaikan apa yang harus diperbuatnya dan siapa yang dihadapinya sehingga pikiran kritis para mahasiswa akan mampu di aktualisasikan dengan sempurna . ketiga pikiran kritis yang akan di paparkan harus berdasarkan fakta yang ada , tidak sekedar sebuah adu debat , mahasiswa harus punya landasan mengapa mereka menolak keras dan kritis tentang apa yang telah diperdepatkan sehingga akan mampu merujuk pada penemuan baru dalam ilmu pengetahuan .
disini cukup jelas , penulis sangat tidak setuju dengan pemikiran mahasiswa yang hanya sekedar qona’ah dalam jenjang perkuliahannya , karena sebuah akal manusia terdapat jutaan potensi yang dimana didalam agama sendiri manganjurkan untuk dapat memanfaatkan apa yang terdapat dalam diri manusia sebagai bentuk syukur nikmat yang diberikan oleh sang maha kuasa Konsep Akal Dalam Al-Qur’an – Dari segi bahasa, akal yang telah di-Indonesiakan berasal dari kata al-‘aql. Dengan kekuatan akal orang mendapatkan ilmu dan ilmu yang digunakan serta dimiliki oleh manusia bergantung pada kekuatan akalnya. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa harus mampu mengimbangi antara berfikir kritis kita dengan norma-norma dalam agama agar pemikiran yang kritis yang dimiliki mampu membuat perubahan besar dalam ilmu pengetahuan itu sendiri.
Good
ReplyDelete